Renungan harian
Selasa, 12 Oktober 2021
Roma 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Rom 12:19 Hamu, angka na hinaholongan, unang hamu marlulu; pasahat hamu ma rimas i (tu Debata), ai tarsurat do: "Di Ahu do pamaloson, Ahu pe mamaloshon, ninna Tuhani."
Dalam ayat 17-21, Paulus memberi nasihat mengenai sikap terhadap orang yang menurut ukuran manusia adalah musuh kita. Sama seperti dalam ayat 14, di sini kita temukan anjuran yang termasuk nasihat pokok dalam lingkungan jemaat purba. Kita menemukannya pula dalam 1 Tes. 5:15 dan 1 Ptr. 3:9, dan dalam Kitab Injil (Mat. 5:38 dyb.). Baiklah kita mencatat bahwa nasihat ini berakar dalam PL (Ams. 20:22; 24:29; dan juga Kel. 23:4 dyb. dll.). Yesus Kristus telah berbuat sesuai dengan asas ini: 'Ketika Ia dicaci-maki, Ia tidak membalas dengan mencaci-maki dst. (1 Ptr. 2:23). Oleh karena itu, orang percaya juga tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sebaliknya mereka harus melakukan apa yang baik bagi semua orang. Dalam bahasa asli tertulis: di hadapan semua orang. Kita dapat mengartikannya: dalam pandangan, menurut pendapat semua orang. Meskipun orang banyak senang berbuat segala macam kejahatan (1:18 32), namun sering mereka senang melihat kebaikan dalam orang lain. Maka, orang Kristen harus berusaha (di sini malah dipakai kata kerja yang dapat berarti: 'merencanakan') untuk berbuat apa yang oleh semua orang dipandang baik. Dengan demikian nama Tuhan dipuji dan jemaatNya dihormati. Dengan cara itu juga suatu minoritas yang kecil dapat berpengaruh besar dalam masyarakat luas.
Kalau bahasan mengenai tanggapan yang layak terhadap kejahatan diselesaikan pada pasal 12:18, maka kesannya bahwa kita harus tetap kalah saja, tetapi sebenarnya kesan itu tidak benar. Kita tidak kalah saja, karena Allah yang akan membalas. Kita "mencuri" dari Allah kalau kita mengambil apa yang Dia punya, yaitu pembalasan, dan melakukannya sendiri. Dari pengkalimatan nats ini hampir ada kesan bahwa orang yang membalas dendam menggeser Allah dari tempatnya sebagai yang membalas, sehingga Dia tidak dapat membalas lagi.
Nas ini mengingatkan kita bahwa selayaknya kita yang dikasihi oleh Allah ikut mengasihi orang lain, dan tidak mempersiapkan pembalasan bagi mereka yang melakukan kejahatan. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Renungan harian
Senin, 11 Oktober 2021
Matius 15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Mateus 15:18 Alai angka na ruar sian pamangan, sian roha do i hehe, laos i do mangaramuni jolma i.
Betapa sangat berbahayanya jika kita menjadi tercemar akibat apa yang keluar dari mulut, yang berasal dari hati (Mat 12:34). Tidak ada yang najis dalam hasil karya karunia Allah, kenajisan timbul dari hasil perbuatan jahat kita.
Yesus melanjutkan pengajaranNya bahwa apa yang kita makan dan minum tidak dapat menajiskan kita. Semua makanan itu masuk ke dalam perut dan melewati beberapa alat pencernaan dan selanjutnya, proses alami dalam tubuh akan membuang kotoran, itulah kategori najis. Maka pengeluaran kotoran yang sudah ditentukan alam, itulah yang menjadi najis atau kotor dan akan dikeluarkan dan hilang. Jadi, makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan, tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.
Yesus berkata, "Kenajisan bukannya datang dari luar, melainkan dari dalam hati orang." Dengan satu kalimat saja Yesus telah membalikkan pengajaran dan kepercayaan orang-orang Farisi yang hanya mementingkan perkara-perkara yang lahiriah, sedangkan yang di dalam batin mereka lalaikan. Semua peraturan dan adat istiadat itu tidak ada hubungannya dengan kenajisan atau kesucian seseorang. Yesus langsung menunjukkan perhatianNya kepada peraturan ibadat yang bersifat lahiriah, yang tidak berguna jika hati tidak digerakkan dan disucikan.
Sumber yang rusak yang mengeluarkan apa yang keluar dari mulut. Yang keluar dari mulut berasal dari hati, yang merupakan mata air dan sumber dari segala dosa (Yer. 8:7). Adalah hati yang sungguh luar biasa liciknya. (Yer. 17:9). Segala dosa perkataan ataupun perbuatan pada awalnya ada di dalam hati terlebih dahulu. Di sanalah tertanam akar kepahitan, yang menghasilkan racun atau ipuh. Bagian dalam dari orang berdosalah yang penuh dengan kebusukan (Mzm. 5:10). Segala perkataan yang jahat berasal dari dalam hati, dan itu menajiskan. Dari hati yang jahat keluarlah perkataan yang jahat.
Jadi, yang keluar dari hati, hati yang jahat, itulah yang menajiskan kita. Seperti menurut hukum seremonial, hampir apa pun yang keluar dari diri seseorang, menajiskannya (Imamat 15: 2, Ulangan 23: 13); demikian halnya, apa yang keluar dari pikiran seseorang itulah yang menajiskan-Nya di hadapan Allah dan merekalah yang membutuhkan pembasuhan rohani.
Untuk itu, mari dengan sungguh untuk memurnikan hati kita dan menjaganya tetap tulus, sehingga tidak akan pernah menjadi sarang atau sumber kejahatan terancang di dalamnya. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Renungan harian
Senin, 16 Agustus 2021
Mazmur 92:14 Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
Psalmen 92:14 Angka na sinuan di bagasan bagas joro ni Jahowa, marbunga do nasida di bagasan angka alaman ni Debatanta.
Kita tahu bahwa pemazmur berulang-ulang mengungkapkan isi hatinya yakni bersukacita di dalam Allah, kemuliaan-Nya, dan anugerah-Nya. Di dalam kemuliaan Allah bertahta di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya. Para pelaku kejahatan yang bangkit melawan mungkin saja menempati kedudukan yang tinggi untuk beberapa waktu, dan menyangka telah mengangkat tinggi segala sesuatu, tetapi Tuhan di tempat yang tinggi, paling tinggi, untuk selama-lamanya. Ketinggian mereka akan direndahkan dan diturunkan, tetapi ketinggian-Tuhan akan kekal selamanya. Oleh sebab itu, janganlah kita takut terhadap kesombongan dan kekuatan orang-orang fasik, atau berkecil hati karena kejahatan mereka yang sebenarnya tidak berdaya, karena ngengat akan memakan mereka seperti memakan pakaian, tetapi keselamatan yang dari pada Allah akan tetap untuk selama-lamanya.
Bagi semua orang yang dikasihi Allah, mereka diumpamakan seperti pohon tarbantin kebenaran. Mereka ditanam di bait TUHAN. Pohon-pohon kebenaran bukan tumbuh dengan sendirinya tetapi ditanam. Bukan di tanah biasa, melainkan di taman Firdaus, di bait TUHAN. Pepohonan tidak biasa ditanam di dalam rumah, tetapi dikatakan bahwa pohon-pohon Allah ditanam di bait atau rumah-Nya karena itu datang dari anugerah-Nya, dan melalui perkataan serta Roh-Nya sajalah mereka menerima seluruh kebaikan yang membuat mereka tetap hidup dan berbuah. Mereka mengukuhkan diri kepada ketetapan kudus, berakar di dalamnya, mematuhinya, menempatkan diri di bawah perlindungan ilahi, dan menghasilkan buah demi kehormatan dan kemuliaan Allah.
Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Tidak ada tanaman di bait Tuhan yang mati, tetapi dia akan bertunas dan semakin tinggi. Demikian kita yang dengan sungguh hati mau bertumbuh di dalam Tuhan, akan tetap hidup bahkan sampai tua juga akan tetap berbuah, dapat berguna bagi banyak orang. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Renungan harian
Selasa, 13 Juli 2021
Matius 23: 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
Mateus 23: 28 Tongon songon i hamu: Tigor hamu nian idaon ni halak sian duru, alai anggo di bagasan, gok pangansion do hamu dohot na so uhum.
Ada kebiasaan orang Yahudi untuk mengapur putih kuburan dengan maksud menandai kuburan tersebut. Khususnya bila kuburan itu tidak berada di tempat seharusnya, sehingga dengan tanda itu orang bisa menghindarinya agar tidak menjadi najis. Upacara bisa dianggap tercemar bila orang tersentuh kuburan tersebut (Bulangan 19: 16). Hal itu menjadi sebagian dari tugas pengawas jalan yang harus melabur ulang bila kuburan tersebut rusak dan pudar. Dengan demikian kuburan harus dibangun dengan baik sekali (2 Raja 23: 16-17).
Demikianlah dicontohkan Yesus tindakan orang munafik yang hanya mengutamakan segi luar saja, kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang Farisi itu disamakan seperti hiasan di atas makam, atau mendandani tubuh yang mati hanya demi pamer belaka. Puncak hasrat hati mereka adalah agar tampak benar di mata orang, dan juga agar dihargai dan dikagumi mereka.
Yesus mengecam para pemimpin agama dan pengkhotbah pada zaman itu yang perilakunya di depan umum tampak benar, tetapi hatinya penuh kemunafikan, kesombongan, hawa nafsu, dan kefasikan. Tuhan Yesus menyebut bahwa orang Farisi dan ahli taurat sangatlah munafik! Mengapa demikian? Karena mereka duduk di tempat paling depan dalam rumah ibadah, berdoa dengan kalimat yang indah dan sangat panjang akan tetapi mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, kesetiaan sehingga tidaklah mengherankan apabila mereka begitu rakus dan serakah.
Apakah kita juga melakukan seperti yang orang Farisi dan ahli taurat lakukan? Misalnya, kita rajin beribadah, aktif melayani, rajin share renungan di sosial media akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari suka mengucapkan kata-kata kasar; kotor; sumpah serapah, suka iri dan sirik pada orang lain, suka bertindak kasar pada istri dan anak, suka melawan orangtua, suka menindas orang, dan hal-hal lain yang kita tau sebenarnya bertentangan dengan perintahNya namun masih kita lakukan.
Biarlah nas ini menjadi teguran yang kuat bagi kita, jangan munafik! Sebab kekudusan hidup harus luar dan dalam bukan seperti orang Farisi dan ahli taurat yang kelihatan kudus. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Renungan harian
Kamis, 01 Juli 2021
Matius 13: 22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah
Mateus 13: 22: Alal anggo na sinaburhon tu parsihupian i, i ma na umbege hatai, gabe pangkolsohonna di angka na di hasiangan dohot hamoraon sipangansi i do mamisati hata i, jadi ndang saut marparbue.
Nas kita adalah salah satu dari empat kategori jiwa penerima firman Tuhan. ke-empat kategori itu digambarkan sebagai: pinggir jalan, tanah berbatu-batu, semak duri dan tanah yang baik (Mat 13: 1-23). Maka saat ini yang diangkat adalah kategori penerima firman Tuhan sebagai semak duri.
Tentang benih yang ditabur di semak duri adalah orang yang mendengar firman, namun karena kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Orang tipe ini penuh dengan perkara-perkara duniawi. Semak belukar yang ganas adalah godaan dan kekuatiran dunia, kesenangan duniawi, mengejar harta kekayaan. Hati yang penuh dengan urusan dunia membuat firman itu semakin terhimpit dan mati.
Untuk itu, kita harus membuang ketiga tipe tanah ini, Milikilah tanah yang baik, hati kita seringkali berubah-ubah. Kadang kita berfikir bahwa kita sudah memiliki hati seperti tanah yang baik, tetapi setelah kita merenungkan kembali, kita seperti memiliki hati ditanah yang berbatu, antusias ketika mendengar firman namun tidak mau melakukan firman.
Karena itu kita harus selidiki hati kita apakah kita sungguh-sungguh memiliki hati yang lembut dalam menerima Firman Tuhan. Biarlah benih itu semakin berakar di dalam hati kita dan berbuah lebat. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
2019 © GKPI Padang Bulan Medan. all rights reserved.