Renungan Harian Jumat, 02 Juli 2021

By : ADMIN, Posted : 03 Juli 2021

Renungan harian

 

Jumat, 02 Juli 2021

 

Yehezkiel 34: 22 maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. 

Hesekiel 34: 22 Dibahen i ahu ma manolongi birubirungku, asa unang be ripe pupusan, jala ahu mamutus uhum di holangholang ni birubiru martimbangkon birubiru.

 

Jika sebelum nas ini, dipertentangkan tentang gembala vs domba dalam Yehezkiel 34:1-16. Maka nas ini, kelanjutan dari ayat tersebut di atas, yang bukan gembala (yaitu yang masih sama-sama domba), juga harus bersikap dengan benar terhadap domba-domba yang lain, jika tidak maka Tuhan sendiri yang akan bertindak.

Bacaan Alkitab kita hari ini dimulai dengan perintah Tuhan kepada domba-dombaNya bahwa Ia sendiri akan menjadi hakim di antara domba-dombaNya. Ini adalah perintah Tuhan kepada domba-dombaNya, yang artinya bahwa di antara domba-domba Tuhan, ternyata juga ada domba-domba yang nakal. Seperti apa bentuk kenakalan domba tersebut? Alkitab menulis bahwa domba-domba yang nakal ini adalah domba-domba yang menghabiskan padang rumput yang terbaik. Tidak hanya itu saja, domba nakal ini juga menginjak-injak padang rumput yang sebenarnya menjadi milik domba lain. Bahkan ketika ia minum air yang jernih, domba yang nakal ini tidak rela domba lain menikmati air yang jernih sehingga ia pun mengeruhkan air tersebut dengan kakinya.

Secara ringkas, Alkitab menuliskan bahwa ciri domba-domba nakal ini adalah dengan cara menghambat domba lain mendapatkan makanan dan minuman yang seharusnya dapat mereka dapatkan. Domba-domba yang seharusnya mendapat rumput yang segar dan baik, serta minum dari air yang jernih, akhirnya mendapatkan rumput sisa diinjak-injak dan air yang keruh. Padahal Tuhan sebagai gembala saja sudah menyiapkan rumput dan air dengan kualitas terbaik bagi domba-dombaNya.

Itulah mengapa Tuhan sangat marah kepada domba-domba yang nakal tersebut. Tuhan akan menjadi hakim antara domba yang gemuk (yaitu domba yang nakal karena ia memakan bagian yang terbaik tanpa memperhatikan kepentingan domba-domba lain), dan domba yang tidak gemuk (yaitu domba yang teraniaya karena ditindas oleh domba-domba yang nakal). Tuhan akan menjadi hakim yang menghukum domba-domba gemuk tersebut, karena mereka mendorong dan mendesak domba-domba yang lemah, dan akan membela domba-domba yang kurus tersebut.

Untuk itu, mari menjadi domba yang peduli terhadap domba yang lain, jika kita tidak dapat menolong, paling tidak kita tidak menghalangi orang lain untuk mendapat pertolongan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.  

Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang

Renungan Harian Sabtu, 03 Juli 2021

By : ADMIN, Posted : 03 Juli 2021

Renungan harian

 

Sabtu, 03 Juli 2021

 

Efesus 2: 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Epesus 2: 22 Di bagasan Ibana do nang hamu rap dipauliuli, gabe parmianan ni Debata di bagasan Tondi i.

 

Dalam perikop ini Paulus menggunakan dua gambaran untuk memperjelas maksudnya, yakni keluarga dan bangunan. Pertama: Dikatakannya bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi bukan lagi orang-orang asing, melainkan warga penuh dari Keluarga Allah. Paulus menggunakan kata bahasa Yunani “xenos” yang berarti orang asing. 

Di setiap kota di Yunani terdapat xenoi, dan hidup mereka tidak mudah. Seorang di antara mereka pernah menulis: "Seenak-enak di negeri orang, lebih enak di negeri sendiri." Orang asing selalu dicurigai dan dibenci. Untuk menyebut orang yang menumpang, Paulus menggunakan kata bahasa Yunani paroikos, yaitu orang asing yang tinggal menetap. Orang ini menjadi penghuni tetap dari suatu negara tanpa menjadi warganegara dari negara itu. Ia juga membayar pajak untuk hak tinggal di negeri yang bukan negerinya. Baik xenos maupun paroikos selalu merupakan orang-orang yang tersisih. Jadi kepada orang-orang bukan Yahudi itu Paulus berkata: "Kalian bukan lagi anak-anak Allah yang harus menanggung penderitaan. Kalian adalah warga penuh Keluarga Allah." Dengan kata-kata yang sederhana hal ini dapat kita katakan, bahwa melalui dan di dalam Yesus kita akan betah tinggal satu rumah dengan Allah.

Kita begitu senang melihat keharmonisan sebuah keluarga, ingin selalu memperhatikan mereka yang membangun keluarga yang berbahagia. Hal seperti itu kiranya terjadi dalam Keluarga Allah, dan seyogianya juga terjadi di Gereja. Di dalam Yesus, maka tempat akan tersedia bagi semua orang dalam Keluarga Allah. ]Memang suatu kesedihan besar bahwa Gereja seringkali malah lebih eksklusif daripada Allah sendiri.

Gambaran kedua: Paulus menggunakan gambaran sebuah gedung. Paulus membayangkan bahwa setiap gereja adalah bagian dari sebuah gedung besar, dan bahwa setiap orang Kristen adalah batu yang merupakan bagian bangunan gedung Gereja itu. Adapun batu penjuru seluruh Gereja adalah Kristus sendiri, dan batu penjuru itulah yang mempersatukan segalanya dalam Gereja itu. Dibayangkan pula oleh Paulus bahwa pembangunan gedung itu terus-menerus berlangsung dengan setiap bagiannya dilekatkan kepada Kristus. Dalam gedung yang satu itu terdapat kepelbagaian seni arsitektur; tetapi seluruh gedung itu merupakan satu kesatuan karena seluruhnya dipakai untuk berbakti kepada Allah dan untuk bertemu Kristus. Setiap gereja mestinya adalah seperti itu. Kesatuannya tidak berasal dari organisasi maupun dari pelayanan ibadahnya, melainkan berasal dari Kristus Kepala Gereja. Ubi Christus, ibi ecclesia yang artinya di mana Kristus ada, di situ Gereja ada. 

Kita sebagai warga Gereja, kiranya  hanya akan menghayati dan mewujudkan kesatuan kita, gereja kita untuk menjadi tempat kediaman Kristus dan Roh Kudus, dan tempat di mana orang-orang yang mengasihi Kristus dapat saling bertemu di dalam Roh Kudus itu. Amin.  

Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang

Renungan Harian Selasa, 29 Juni 2021

By : ADMIN, Posted : 29 Juni 2021

Renungan harian

 

Selasa, 29 Juni 2021

 

Wahyu 3: 1 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 

Pangungkapon 3: 1 Surathon ma tu suruan ni huria Sardes: On do hata ni Partondi na pitu na sian Debata jala Parbintang na pitu: Huboto do angka ulaonmu, natargoar do ho mangolu, hape na mate do!

 

Sardis adalah suatu kota yang letaknya di sebelah tenggara Efesus, dan yang termasyhur karena masa lampaunya. Pernah kota itu menjadi tempat kedudukan Croesus, raja yang kaya-raya dari Lydia. Tetapi dalam abad pertama sesudah Kristus arti kota ini telah menjadi kecil. 

Jemaat Kristen di Sardis mendapat suatu surat yang sangat tajam. Kita melihat dalam ketujuh surat kepada ketujuh jemaat di propinsi Asia itu bahwa ada banyak keragaman dalam keadaan kerohanian dari ketujuh jemaat ini. Itulah sebabnya ketujuh surat itu mengandung begitu banyak pelajaran untuk segala zaman. Terkadang kita melihat dalam surat-surat ini gambaran yang menarik mengenai orang-orang yang hidup dalam iman, dalam kasih kepada Allah dan kepada saudara-saudara dan yang memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Terkadang kita membaca tentang ajaran sesat yang mengerikan, yang masih juga dibungkus dengan nama Kristen. 

Dalam jemaat Sardis itu dilukiskan kepada kita, dengan cara yang tak dapat dilupakan lagi, gambaran suatu jemaat yang sudah mati secara rohani (seperti yang Kristus katakan dalam ayat 1). Di Sardis berlangsung kebaktian-kebaktian secara teratur; sakramen-sakramen dilayankan dan perkataan-perkataan Kristen dipergunakan. Tetapi kehidupan jemaat tidak bersesuaian dengan perkataan yang bagus-bagus itu. Itulah suatu bahaya, yang selalu mengancam gereja; juga gereja kita di GKPI.

Kristus memperkenalkan diri-Nya, dalam segala keluhuran-Nya kepada jemaat ini. Kristus berkata bahwa Dialah yang memegang tujuh bintang di tangan kanan-Nya (lihat 1:16 dan 20), dan yang sama seperti Allah Bapa, memiliki ketujuh Roh Allah, yaitu Roh Kudus. Dengan bersungguh-sungguh Kristus menyerukan kepada jemaat Sardis untuk bangun dari tidur rohani itu. Kematian rohani dan tidur rohani mempunyai arti yang sama di sini, seperti dalam Efesus 5:14.

Untuk itu, mari selaraskan perkataan dan perbutan, khotbah yang hidup adalah, hidupnya menjadi khotbah, khotbahnya dihidupinya. Amin.  

Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang

Renungan Harian Senin, 28 Juni 2021

By : ADMIN, Posted : 28 Juni 2021

Renungan harian

 

Senin, 28 Juni 2021

 

1 Tesalonika 5:22: Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

Tessalonik 5:22: Pasiding hamu ma nasa rumang ni na roa!

 

Tujuan nas kita adalah suatu Kuasa untuk menjalani kehidupan Kristen yang bercahaya. Untuk itu sebelum ayat ini, Kita diminta untuk, "Janganlah padamkan Roh Kudus", dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah", Efesus 4:30. Roh Kudus adalah kuasa untuk kehidupan yang bercahaya. Roh Kudus dipadamkan dan didukakan oleh banyak orang Kristen sebab mereka tidak percaya, tidak taat kepada Kristus, melupakan Alkitab, dan percaya kepada kekuatan diri sendiri. Banyak hal yang mengisi pikiran orang Kristen yang memadamkan api rohani.

Roh Kudus diberikan kepada kita agar kita penuh kuasa, bersaksi menang atas dosa dan mengeluarkan buah Roh. Selain itu Roh Kudus menyatakan diri-Nya melalui nubuat, bahasa roh dan lain-lain penyataan ajaib. Boleh jadi orang-orang dalam Jemaat di Tesalonika kurang mengindahkan penyataan-penyataan Roh Kudus sebagaimana mestinya, karena itu Paulus memberikan nasihat itu. 

Di lain pihak janganlah kita menerima segala-galanya dengan begitu saja tanpa mengujinya. Dengan demikian kita mengerti bahwa jangan kita memadamkan Roh dan jangan meringankan nubuat tetapi menguji segala hal. Jikalau seseorang datang dengan mengatakan ia bernubuat, janganlah kita menerimanya tanpa menguji hal itu dan orang itu. Kita sangat memerlukan karunia "membedakan bermacam-macam roh" yang dikatakan dalam I Korintus 12:10 dan 14:29 dan 1 Yohanes 4:1. Kita harus menguji segala hal dengan Alkitab seperti Jemaat di Berea. Kisah para Rasul 17:11.

Kita harus tahu membedakan yang benar dan yang palsu: seperti dahulu kita membedakan emas yang palsu dan yang asli dengan menjatuhkannya di atas sepotong marmer. Bunyi yang palsu lain sekali dengan bunyi yang asli. Demikian juga kita harus membedakan kata-kata orang. Yang baik kita terima dengan segenap hati dan yang salah kita tolak dengan tegas. Kita tidak boleh mengambil jalan tengah dalam hal itu.

Sesudah kita menguji segala sesuatu kita harus menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan. Segala hal yang tidak menurut Firman Tuhan harus ditolak tegas. Dengan demikian, cara menjauhkan diri dari kejahatan, hanya dengan menerima hikmat dari Roh Kudus. Kiranya kita dilimpahi karunia Roh, sehingga kita dapat memiliki kuasa untuk menjalankan hidup sebagai kristen dengan menjauhkan diri dari segala jenis kejahan. Amin.  

Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang

Renungan Harian Sabtu, 26 Juni 2021

By : ADMIN, Posted : 26 Juni 2021

Renungan harian

Sabtu, 26 Juni 2021

Mazmur 138:7 Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.

Psalmen 138:7 Molo mardalandalan ahu di parsitongaan ni hagogotan, dipangolu Ho do ahu, diondingkon Ho do tanganmu dompak muruk ni angka musungku, jala ditumpahi siamunmi do ahu.

 

Kebaikan yang dinyatakan Allah terhadap umat-Nya yang rendah hati yang rela mengabaikan sorga dan bumi untuk memandang mereka dengan penuh anugerah (Yesaya 57: 15; 66: 1). Dia akan memberikan kehormatan kepada mereka. Sementara itu, Dia mengenal orang yang sombong dari jauh, mengetahui siapa mereka, tetapi menolak dan tidak mengakui mereka, betapa pun mereka dengan angkuhnya berpura-pura menginginkan kebaikan-Nya. 

Allah memelihara umatnya yang menderita karena tertindas. Meskipun Daud adalah seorang yang baik lagi hebat, dia tetap bersiap diri untuk berada dalam kesesakan. Akan tetapi, ia menguatkan dirinya sendiri dengan pengharapan, bahwa Allah akan menghiburkannya. Penghiburan ilahi cukup untuk mempertahankan hidup kita ketika kita berada dalam kesesakan dan hampir binasa oleh kegentaran. Bahwa pada waktunya nanti, Dia akan menyelamatkannya: tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. Sebagaimana tangan-Nya yang satu terulur melawan para musuhnya, demikianlah tangan-Nya yang satu lagi menyelamatkan umat-Nya. Kristus adalah tangan kanan Tuhan yang akan menyelamatkan semua orang yang melayani-Nya.

Setiap orang yang saleh mendahulukan kewajibannya terhadap Allah dan kebahagiaannya di dalam Allah, supaya yang pertama dijalankan dengan setia dan yang terakhir terjamin kelangsungannya. Dan jika hati kita memang mendambakan dan menginginkan kedua hal itu lebih dari segalanya, berarti sebuah pekerjaan baik telah dimulai dalam diri kita, dan Dia yang telah memulainya juga akan menyempurnakannya. 

Sebab, jika kita memberi Allah kemuliaan atas kasih setia-Nya, maka kita pun dapat mengambil penghiburan di dalamnya. Pengharapan yang kita nanti-nantikan haruslah memiliki dasar yang kuat, bukan didasari atas kekuatan kita, sebab hal itu pasti akan mengecewakan kita, tetapi atas kasih setia Allah yang tidak akan pernah gagal. Amin.  

Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang

Ayat Harian

  • Minggu 31 Mei 2026, Yesaya 44 : 1 - 8
  • Sabtu 30 Mei 2026, Yesaya 1 : 18
  • Jumat 29 Mei 2026, Yudas 1 : 20 - 21
  • Kamis 28 Mei 2026, Kidung Agung 8 : 6
  • Rabu 27 Mei 2026, 3 Yohanes 1 : 11
  • Selasa 26 Mei 2026, Pengkhotbah 7 : 14
  • Senin 25 Mei 2026, Galatia 5 : 16 - 26

Agenda Gereja

  • 26 April 2026, Penahbisan Pendeta GKPI
  • 30 April 2026, Ujian Tulisan, Ujian Lisan Pelajar Katekisasi/Parguru Malua
  • 03 Mei 2026, Peneguhan Sidi Pelajar Katekisasi/Parguru Malua
Jadwal Ibadah

Minggu pukul 08.00 – Sekolah Minggu (Bahasa Indonesia)
Minggu pukul 10.30 – Sekolah Minggu (Bahasa Indonesia)
Minggu pukul 08.00 – Ibadah Remaja (Bahasa Indonesia)
Minggu pukul 08.00 – (Bahasa Indonesia)
Minggu pukul 10.30 – (Bahasa Batak Toba)
Minggu pukul 16.30 – (Bahasa Indonesia)
Minggu pukul 19.00 – (Bahasa Indonesia)

Kontak Gereja

Alamat:
Kompleks PAMEN, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20157

Email
info@gkpipadangbulan.or.id

No. Telepon
082223777134

2019 © GKPI Padang Bulan Medan. all rights reserved.