Rabu, 02 Juni 2021
1 Petrus 2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
1 Petrus 2:5 Sai olo ma nang hamu paulion, songon angka batu na mangolu, gabe bagas partondion jala hamalimon na badia, laho mamboan angka pelean partondion, halomoan ni roha ni Debata, marhitehite Jesus Kristus.
Petrus berbicara perihal bangunan, yakni pembangunan rumah rohani. Kristus adalah dasar dari bangunan itu dan kita adalaha bahan-bahan yang dibangun di atas diri-Nya: kita dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan rumah rohani itu. Petrus sedang menawarkan jemaat dan aturan dasar Kristen kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di perantauan. Orang Yahudi di perantauan itu menyatakan keberatan bahwa jemaat Kristen tidak memiliki Bait Allah yang agung ataupun imamat dengan banyak anggota. Selain itu, bagi mereka, tatanan jemaat Kristen itu sederhana, tata ibadah dan persembahan korbannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemegahan dan kebesaran yang dimiliki tatanan jemaat Yahudi.
Terhadap keberatan ini, Petrus menjawab bahwa jemaat Kristen memiliki susunan yang jauh lebih mulia daripada Bait Allah Yahudi. Jemaat Kristen merupakan Bait Allah hidup yang tidak terdiri atas bahan-bahan bangunan mati, melainkan atas bagian-bagian yang hidup. Kristus, dasarnya bangunan itu, adalah batu yang hidup. Orang-orang Kristen adalah batu-batu hidup yang digunakan untuk membangun rumah rohani, dan mereka merupakan imamat yang kudus. Dan meskipun mereka tidak mempersembahkan korban hewan yang disembelih, namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih baik dan berkenan. Selain itu, mereka juga mempunyai mezbah untuk mempersembahkan korban mereka, sebab mereka mempersembahkan korban rohani yang berkenan kepada Allah melalui Yesus Kristus.
Kita harus bersungguh-sungguh memiliki asas kehidupan rohani. Kristus disebut batu yang hidup, demikian juga kita disebut batu-batu hidup. Kita hidup bagi Allah melalui kelahiran baru dan karya Roh Allah. Jemaat Allah merupakan rumah rohani yang dasarnya adalah Kristus. Sehingga kita merupakan imamat yang kudus sebagai orang-orang pilihan yang dikuduskan bagi Allah, berguna bagi orang lain, diberkati dengan karunia-karunia dan anugerah sorgawi, serta dipekerjakan dengan baik.
Kita sebagai persekutuan Imamat yang kudus ini harus dan akan mempersembahkan korban-korban rohani kepada Allah yakni tubuh, jiwa, dan segenap keberadaan kita. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Selasa, 01 Juni 2021
2 Timotius 3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah mind engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
2 Timotius 3: 14 Alai anggo ho, sai mian ma di bagasan angka na ginuruhon jala naung hinaporseaanmi, ai diboto ho do na mangajarhonsa tu ho.
Tidak cukup Timotius hanya mengikuti contoh Paulus (ay 10, 11). Tetapi, kata Paulus, hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan yakini. Ia harus tetap berpegang pada ajaran yang telah ia terima. Apalagi ia telah yakin 100% akan kebenarannya. Masih ada alasan lain, mengapa ia selayaknya setia kepada ajaran itu: dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu - orang-orang yang telah mengajarkan ajaran itu kepada Timotius bukan sembarang orang, melainkan orang-orang yang dapat ia percayai sepenuhnya, yaitu neneknya Lois, ibunya Eunike, bapak rohaninya Paulus, mereka semuanya orang-orang yang ia amat cintai dan junjung tinggi. Dengan selalu ingat bahwa ajaran itu ia terima dari orang-orang yang ia cintai dan percayai, maka tidak mudah ia akan meragukan dan melepaskan ajaran itu.
Rasul Paulus memerintahkan Timotius untuk tetap memelihara pendidikan yang baik, dan khususnya mengenai hal-hal yang telah ia pelajari dari Kitab Suci.
Kita juga seperti itu, tidak cukup hanya mempelajari apa yang baik, tetapi kita harus belajar terus-menerus, serta bertekun di dalamnya sampai akhir. Dengan demikian maka kita adalah benar-benar murid Kristus (Yoh. 8:31). Oleh karena itu kita harus tetap berpegang pada kebenaran yang telah kita pelajari dari Alkitab. Artinya, kita perlu terus berpegang pada kebenaran yang dengan sangat jelas telah ditegaskan oleh Kitab Suci. Jika kita mau berpegang teguh pada kebenaran seperti yang telah diajarkan Alkitab, maka hal ini akan mempersenjatai kita terhadap jerat para penggoda yang menyelundup masuk. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Senin, 31 Mei 2021
Yohanes 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Johannes 6:29 Dung i ninna Jesus ama mangalusi nasida: Haporseai hamu ma Nasinuru ni Debata; i ma ulaon lomo ni rohana.
Tentu, mereka yang suka mengajar harus cepat mendengar dan belajar menjawab. Inilah hikmat bagi pengajar, yaitu sekalipun dihujani dengan pertanyaan yang sia-sia dan menyimpang, berusahalah memberi jawaban yang bermanfaat, supaya pertanyaan yang sia-sia dapat ditepis, tetapi keinginan orang untuk bertanya tidak ditampik. Demikian Yesus selalu menjawab pertanyaan orang banyak itu.
Pertanyaan mereka cukup berkaitan dengan masalah yang dibicarakan: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Setidaknya pada saat itu mereka berpikiran baik serta ingin mengetahui dan melaksanakan tugas-tugas mereka. Di sini, pertanyaan ini menunjukkan keyakinan mereka yang ingin memperoleh makanan yang kekal. Mereka yang berharap dapat menikmati kemuliaan Allah, harus belajar mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu pekerjaan yang Ia minta dan yang akan Ia terima. Pekerjaan yang dikehendaki Allah berbeda dari pekerjaan orang duniawi yang mengejar perkara duniawi. Tidak cukup hanya berbicara tentang firman Allah, kita juga harus melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah.
Jawaban Kristus sudah cukup jelas: Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya. Pekerjaan iman adalah pekerjaan Allah. Mereka bertanya tentang pekerjaan-pekerjaan (dalam hal jumlah), peduli dengan banyak hal, tetapi Kristus mengarahkan mereka pada satu pekerjaan saja, tetapi yang melingkupi semua pekerjaan lainnya, satu pekerjaan yang sungguh-sungguh diperlukan, yakni: hendaklah kamu percaya. Pekerjaan ini mengesampingkan semua pekerjaan lainnya yang hanya sekadar menunaikan hukum yang punya arti simbolis belaka.
Kepada kita juga diperhadapkan Pekerjaan ini, yaitu percaya. Pekerjaan tersebut juga menghasilkan pekerjaan-pekerjaan lainnya, karena tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan Allah, karena pekerjaan itu dilakukan-Nya di dalam kita, pekerjaan itu menundukkan jiwa kita pada pekerjaan-Nya di dalam kita, serta menggerakkan jiwa kita sehingga bekerja bagi Dia.
Iman itu adalah pekerjaan Allah yang membuat kita dekat kepada Kristus dan selalu mengandalkan Dia. Iman itu adalah percaya kepada Dia yang telah diutus Allah, dalam menyelesaikan masalah besar untuk memperdamaikan Allah dan manusia. Percaya kepada Dia dengan sendirinya berarti tinggal di dalam Dia dan menyerahkan diri kita kepada-Nya. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Nahum 1: 3 TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi la tidak sekali kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.
Nahum 1: 3 Lambat do Jahowa tarrimas alai na gogo situtu, sai na luluhononna do: Jahowa mardongan habahaba dohot halisungsung parhiteanna, jala ombun do orbuk ni patna.
Kitab Nahum adalah mengenai Penglihatan Nahum, maksudnya wahyu kepada nabi Nahum, sama seperti penglihatan Yesaya (1:1) ialah wahyu kepada nabi Yesaya.
Tema syair ini ialah kepastian dan kekerasan dari pembalasan Allah terhadap bangsa-bangsa, dan itu mulai dengan suatu penyataan yang dahsyat sekali mengenai kenyataan itu. Dengan berulang-ulang nabi Nahum menekankan dan sekali lagi menekankan, bahwa Tuhan itu pembalas. Ia menerangkan, bahwa karena murka Allah lambat menimbun, tepat seperti itu murkaNya lambat hilang.
Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah, tapi Ia akan menganggap mereka bertanggung jawab dan akan menghakimi mereka. Nas ini ialah suatu peringatan, bahwa murka Allah ditujukan kepada semua kelaliman, dan tanpa pertobatan tidak ada pengampunan dosa, apalagi dengan harga murah.
Dalam hal ini, tindakan balas dendam Allah dinyatakan dengan terus terang dan secara berulang-ulang, bukan merupakan alasan untuk menyimpulkan bahwa keputusan Allah diambil secara tergesa-gesa; sebaliknya Ia panjang sabar. Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa kesabaran Tuhan datang dari kurangnya kuasa (Kel. 34:6, 7). Tuhan tidak dapat dipengaruhi untuk menghadapi orang-orang bersalah seolah-olah mereka tidak berdosa. Ini akan berarti penyangkalan atas sifat-Nya. Dalam puting beliung dan badai. Kemahakuasaan Allah jelas terlihat dalam fenomena alam, yaitu kekuatan-kekuatan dasar yang manusia, bahkan sampai sekarang ini, tak berdaya untuk menjinakkan atau mengekangnya (Kel. 19:16-18). Awan adalah debu kaki-Nya. Allah memakai awan di langit sebagaimana manusia memakai debu di bumi.
Allah kita adalah Allah yang maha kuasa, untuk itu mari kita semakin takut akan Tuhan, sebab murkaNya akan menyala-nyala bagi orang yang melawanNya, tetapi kasihNya akan melimpah bagi orang yang setia padaNya. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
Renungan harian
Efesus 5: 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.
Epesus 5: 20 Manontong ma hamu mandok mauliate siala saluhutna tu Debata Ama, di bagasan Goar ni Tuhanta Jesus Kristus.
Seruan Paulus kepada pengikut-pengikutnya di akhirinya dengan suatu nasehat agar supaya mereka hidup sebagai orang-orang arif. Mereka hidup dalam masa yang penuh kejahatan; mereka harus memakai sebanyak mungkin waktu untuk berbuat kearifan agar tidak banyak lagi waktu untuk kebiasaan-kebiasaan jahat dunia ini.
Selanjutnya ia menunjukkan perbedaan antara kumpulan orang-orang penyembah berhala dan kumpulan orang-orang Kristen. Kumpulan orang-orang penyembah berhala mudah sekali menjadi suatu pesta yang tak kenal susila, orang Kristen merasa bahagia kalau dirinya dipenuhi dengan Roh Kudus.
Ada beberapa gambaran yang nyata tentang kehidupan orang-orang Kristen pada zaman dahulu.
(i) Gereja purba adalah Gereja yang menyanyi. Mereka menyanyikan mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani; kehidupan mereka yang penuh suka cita itu membuat mereka gemar bernyanyi.
(ii) Gereja purba adalah Gereja yang mengucap syukur. Secara spontan mereka mengucap syukur atas segala sesuatu yang mereka peroleh, tanpa memandang tempat dan waktu. Gereja purba mengucap syukur karena warganya begitu terpesona oleh kasih Allah yang telah menyelamatkan mereka dari perilaku yang hina. Gereja purba juga mengucap syukur karena warganya benar-benar menyadari bahwa mereka ada dalam pemeliharaan Allah melalui tanganNya yang penuh kasih.
(iii) Gereja purba adalah Gereja di mana orang-orang saling menghormati dan menghargai satu terhadap yang lain.
Mari memiliki rasa saling menghormati dan saling menghargai itu berlaku karena kita menghormati Kristus. Kita memandang satu terhadap yang lain, bukan menurut pekerjaan, kedudukan atau status sosialnya, melainkan dalam terang Kristus; dasar itulah yang kita lakukan untuk menghargai martabat setiap orang. Amin.
Salam dari Pdt. Lofty L. Sihotang
2019 © GKPI Padang Bulan Medan. all rights reserved.